Fantasi Eyes Wide Shut Berdasarkan Psikoanalisis Freud dan Lacan


Abstrak            :
            Film Eyes Wide Shut karya Stanly Kubrick menggambarkan bagaimana fantasi lelaki tidak mampu menyamai fantasi wanita. Karena dalam fantasi feminisme, ada terlalu banyak hasrat, dan ini menjadi ancaman bagi identitas laki-laki. Sepajang film bercerita tentang impotensi lelaki yang
berfantasi, namun gagal untuk mengimbangi fatasi sang isteri yang memiliki fantasi lebih liar. Fantasi merupakan hasrat manusia sehingga membentuk suatu struktur pikiran yang nyata, di mana fantasi itu sendiri merupakan ide dalam setiap aksi yang dikehendaki. Pada film ini, psikoanalisis Lacan adalah sebuah pengertian tentang bagaimana subjek telah disesatkan untuk percaya pada akses, pada fantasinya yang terikat dengan kekuasaan yang Lain (The Others), yang akan menghukum transgresi bentuk apapun. Proses psikoanalisis adalah menyadari bahwa fantasi yang mengisi kekurangan the Other hanya merupakan suatu cara untuk menghasilkan sebuah jawaban yang salah bagi pertanyaan yang akan tetap terbuka. Karena kondisi psikis manusia yang liar, maka sering kali seks bukan untuk hal yang nyata, namun sebagai pelarian dari Yang Real, artinya dari kenyataan berlebihan yang kita temukan dalam fantasi. Karena itu, keseimbangan semu antara dimensi realitas dan fantasi terletak dalam aktifitas seksual.
           


Keyword          : fantasy, the Other, lack, the Real

Pendahuluan   :
            Stanly Kubrick memang terkenal dengan jenis film yang melibatkan perjuangan dalam melawan diri sendiri dengan memunculkan perspektif berbeda dari film kebanyakan. Seperti film Eyes Wide Shut.
            EYES WIDE SHUT bercerita tentang seorang dokter bernama Bill Harford (Tom Cruise) dan istrinya yang bernama Alice (Nicole Kidman). Mereka berdua adalah pasangan muda yang hidup di New York. Lalu pada suatu malam mereka berencana pergi mengunjungi sebuah pesta menyambut natal yang diselenggarakan oleh seorang pasien kaya bernama Victor Ziegler. Di pasta itu, Bill bertemu dengan kawan lamanya dari sekolah medis bernama Nick Nightingale yang sekarang menjadi pemain piano profesional. Sementara itu, di pertengahan pesta, seorang berkebangsaan Hungary bernama Sandor Szavost mencoba mengganggu Alice. Di samping itu, dua model muda pun mencoba mengajak Bill untuk minum. Tapi tiba-tiba Bill dipanggil untuk menyembuhkan Mandy. Mandy adalah seorang perempuan yang sedang sakit akibat obat.
Pada sore berikutnya di rumah Bill, ketika Bill sedang merokok ganja, Alice bertanya apakah ia bercinta dengan dua gadis itu semalam. Bill pun berkata bahwa ia juga cemburu ketika Alice dengan lelaki lain. Diskusi itu semakin memanas. Bill berpikir bahwa perempuan selalu lebih benar dari pada laki-laki. Mereka bertengkar. Hingga pada akhirnya Bill dipanggil oleh salah seorang anak perempuan dari pasiennya yang baru saja meninggal. Dia kemudian menuju tempat itu. Dalam kesedihannya, Marion Nathanson tiba-tiba mencium Bill dan berkata dia mencintainya. Bill tak menghiraukan itu. Ia akhirnya berjalan dan bertemu dengan seorang pelacur bernama Domino dan pergi ke apartemennya.
Alice menelpon tepat sebelum Domino mau mencium Bill, karena telpon itu, Bill langsung pergi menemui Nick di sebuah klub jazz. Bill mengetahui bahwa Nick telah mengembangkan permainan pianonya hingga dia bisa bermain piano dengan mata tertutup. Bill ingin tahu bagaimana cara agar ia bisa seperti Nick. Nick memberi tahu bahwa ia harus memakai kostum, sebuah topeng, dan kata kunci yang dituliskan oleh Nick. Bill akhirnya pergi ke toko kostum. Dia menawarkan pada pemilik rumah bahwa ia mau menyewa kostum. Sang pemilik, Milich, mendapati anak perempuannya sedang bermain gila dengan dua lelaki Jepang. Film ini bercerita tentang kehidupan Bill dan segala lika likunya.
            Teori tentang fantasi berada pada jantung setiap konstruksi neurotis, dan fobia, hysteria sampai neurosis obsessional. Fantasi merupakan sebuah montase yang didasarkan pada keterbatasan psikis yang absolut dari seseorang, yang sayang sekali – terkadang – tidak dibekali untuk menerima dalam proses perkembangannya, hingga akhirnya tidak ada jawaban untuk menjawab teka-teki ini. Alasan mengapa akhirnya hasrat manusia diberikan kesempatan untuk beroperasi adalah karena ada sebuah celah harus tetap terbuka dalam system. Namun, karena – terkadang – ekonomi melihat keterbukaan celah ini sebagai suatu yang dapat mengancam suatu pencarian untuk mendapatkan kepuasan atas permulaan hidup terkait dengan the Other, maka subjek akan diarahkan untuk mengisis kekurangan ini (lack) dengan sebuah fantasi yang mencoba untuk membuat hal yang tidak bermakna menjadi bermakna.
            Fantasi mendasar merupakan hal yang sangat pribadi bagi setiap individu. Hal ini karena fantasi memberikan subjek ilusi, subjek tersebut merupaka sebuah inti yang konsisten. Bagi Lacan, fantasi adalah reaksi pertahanan atas tekanan primer yang kemudian juga direpresentasikan (Sarah Kay, Zizek: A Critical Introdution, hal. 95)
Fantasi dan Objet petit a
            Dalam inti fantasi yang kita temukan adalah hubungan dengan hasrat dari the Other; “hasrat yang ditampilkan dalam fantasi bukan merupakan hasratku – bukan merupakan hasrat saya saat ini – tetapi hasrat dari the Other”. Fantasi adalah suatu cara bagi subjek untuk menjawab pertanyaan: objek apakah dia pada keadaan sebenarnya melalui sudut pandang the Other, dengan pertanyaan: Apa yang dilihat the Other di dalam dirinya; peran apa yang ia mainkan dalam hasrat the Other? Singkatnya, fantasi merupakan bukti akhir dari fakta bahwa hasrat subjek adalah hasrat the Other. (S. Zizek, The Metasases of Enjoyment, hal 177)
            Secara mendasar, fantasi tinggal dalam fakta bahwa ia menghancurkan pertetangan standar antara ‘subjektif’ dan ‘objektif’: tentu saja, secara definisi, fantasi tidaklah objektif (merujuk pada suatu yang ada secara independen, lepas dari persepsi subjek); namun fantasi juga tidak bersifat subjektif (sesuatu yang termasuk dalam atau menjadi milik intuisi pengalaman sadar subjek, produk dari imajinasi subjek). Jadi, fantasi lebih lebih termasuk dalam ‘kategori aneh dari subjektif yang objektif’ (objectively subjective). Artinya, cara ‘timbulnya’ sesuatu, secara objektif tampak demikian, walaupun bagi kita tampaknya tidaklah demikian.
            Fantasi adalah sarana melalui manakah jiwa (psyche) menetapkan hubunganya dengan ‘kenikmatan’ (joussance). Fantasi tidak bertentangn dengan ‘realitas’: sebaliknya, fantasi adalah apa yang membentuk struktur yang kita sebut realitas dan menentukan garis bentuk hasrat (desire). (Sarah Kay, Zizek: A Critical Introduction, hal 163)
            Realitas dapat berfungsi sebagai sebuah pelarian dari perjumpaannya dengan the Real. Dalam pertentangan antara realitas dan mimpi, fantasi berada di pihak realitas. Dan di dalam mimpi, kita berjumpa dengan the real yang traumatis. (S. Zizek, How to Read Lacan, hal. 57)
            Ada ambiguitas mendasar dalam pengertian tantang fantasi: Di satu sisi, fantasi adalah layar (screen) yang melindungi kita dari perjumpaan dengan the Real; di sisi lain, secara mendasar, fantasi sendiri (apa yang disebut Freud sebagai fundamental fantasy), yang menyediakan koordinasi dasar dari kemampuan subjek untuk berhasrat (to desire) – tidak akan pernah disubjektifitaskan dan tetap harus tinggal (terrepresi), agar dapat berfungsi. (S. Zizek, How to Read Lacan, hal 59)

Pembahasan
            Lacan menyamakan the big Other dengan ketidakmungkinan subjek lain utuk menembus, melampaui ‘tembok bahasa’, meletakan kita pada kutub lain dari imaji dominan yang disebut Lacan sebagai the big Other, yakni logika sebuah otomatisme yang hanya ‘diucapkan’ – melupakan dirinya – bukan mejadi tuan rumahnya sendiri. Jadi, apa itu the big Other? Apakah ia adalah sebuah mekanisme tanpa nama dari tatanan simbolis atau subjek lain dalam perbedaan radikalnya? Atau seorang subjek yang terpisah selamanya dari saya – diri subjek –  oleh ‘tembok bahasa’? Pada awalnya, pandangan Lacan terfokus pada dialektika intersubjektif pengenalan; kemdian ia mengajukan mekanisme tanpa nama yang mengatur interaksi subjek (dari Fenomenologi ke Strukturalisme). The big Other adalah tatanan simbolis tanpa nama yang disubjektifikasikan.
            Sebagai contoh adalah kasus keahlian: Apakah yang kita sebut ‘Tuhan’ itu bukan personifikasi the big Other – subjek yang melampaui subjek-subjek lainnya? Kita juga bisa bicara tentang sejarah yang meminta sesuatu dari kita atau gerakan yang mengundang kita untuk berkorban. Apa yang kita dapatkan di sini adalah subjek yang aneh, bukan hanya merupakan manusia lain, tetapi yang Ketiga, yakni: Subjek yang berada di atas interaksi individu-individu nyata – dan teka-teki yang menakutkan adalah apa yang diinginkan oleh subjek yang tak tertembuskan ini dari kita? Bagi Lacan, kita tidak harus membangkitkan Tuhan untuk merasakan dimensi ini; karena ia hadir di dalam setiap diri manusia.
            Hasrat manusia adalah hasrat the Other, artinya manusia berhasrat melalui the Other. Inilah alasan mengapa pertanyaan the Other – yang kembali ke subjek dari tempat di mana dia mengharapkan jawaban – yang mengambil bentuk seperti ‘Che Voui?’, What do you want? Adalah pertanyana yang akan membimbing subjek pada jalan hasratnya sendiri (J. Lacan, Ecrits, hal 300)
            Formula Lacan memang bersifat ambigu. “Melalui the Other manusia berhasrat”. Pertama berarti bahwa hasrat manusia terstruktur melalui the big Other yang ‘decenterd’, yakni: tatanan simbolis. Artinya, apa yang saya inginkan sudah ditentukan oleh the big Other, ruang simbolis di mana saya hidup. Bahkan jika hasratku melampaui, bahkan jika menyalahi norma sosial, transgresi ini bersandar pada apa yang dilampauinya.
            Ada makna lain dari pernyataan: “Hasrat manusia adalah hasrat yang Lain (the Other)”. Artinya, subjek hanya berhasrat sejauh ia mengalami the Other sebagai yang berhasrat, sebagai tempat hasrat yang tidak terukur, seolah-olah hasrat yang suram itu mengalir dari dirinya. Yang lain itu bukan saja menyapaku dengan sebuah hasrat yang membingungkan, dia juga menghadapkanku dengan fakta, bahwa aku sendiri tidak tahu apa yang benar-benar kuinginkan dengan teka-teki hasratku sendiri. Bagi Lacan yang mengikuti Freud, dimensi tidak berdasar manusia lain – pertama kali menemukan ekspresinya dalam ajaran yang mengajak kita untuk mencintai tetanggamu seperti mencintai dirimu sendiri. Ajaran ini membukakan sebuah tradisi di mana inti traumatis yang asing selamanya berlangsung di tetangga saya – tetangga tetap tinggal sebagai sebuah kehadiran (presence) yang lemah, tidak tertembuskan, membingungkan, yang membuat saya menjadi histeris. Inti kehadiran ini tentu adalah hasrat tetangga, sebuah teka-teki bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk tetangga. Untuk alasan inilah Che vuoi?-nya Lacan, bukan hanya bertanya: ‘Apa yang engkau inginkan?’, tetapi ‘Apa yang mengganggumu?’ bagi kita, tetapi juga bagi dirimu sehingga tidak tertahankan, bukan hanya bagi kita, tetapi juga bagi dirimu sendiri (yang jelas tidak engkau kendalikan)?’
            Lacan menerapkan pada tentangga kata ‘Thing’ (das Ding), yang dipakai oleh Freud untuk menunjuk pada objek akhir hasrat kita, hasrat dalam intensitas serta ketidaktembusan yang tidak tertahankan. Kita harus melihat hal ini dalam fiksi horror: Bahwa tetangga adalah ‘Hal jahat’ (Evil Thing) yang secara potensial bersembunyi di bawah setiap wajah manusia yang bersahaja atau sederhana.
            Inilah alasan bahawa menemukan diri sendiri dalam posisi yang dicintai adalah sebuah penemuan yang berat, bahkan traumatis: karena dicintai, itu membuat saya merasakan secara langsung jurang pemisah antara apa saya sebagai makhluk yang sudah tentu atau tetap dan unsur X – suatu index – tidak berdasar di dalam diri yang menyebabkan cinta. Karenanya, Lacan mendefinisikan cinta sebagai: “Cinta adalah memberikan sesuatu yang tidak dimilikinya..”, harus ditambahkan dengan … “kepada orang yang tidak menginginkannya”. Maksud Lacan adalah bahwa kita membutuhkan jalan lain untuk menuju performatifitas, keterlibatan simbolis, tepatnya dan hanya sejauh the Other yang kita hadapi bukan hanya merupakan kembaran – cermin – kita, seorang seperti saya (si subjek), tetapi juga the Other (yang mutlak) yang sukar dipahami dan tetap tinggal sebagai sebuah misteri yang tidak terukur.
            Fungsi utama tatanan simbolis beserta hukum dan kewajibannya adalah untuk membuat koeksistensi kita dengan orang lain, minimal dapat tertahankan: pihak ketiga harus masuk di antara aku dan tetangaku, agar hubungan kami tidak meletus dalam kekerasan.
            Cara terbaik untuk menjelaskan dimensi yang tidak manusaiwi dari tetangga ini adalah dengan merujuk ada filsafat Kant, yakni: “Kritik atas Rasio Murni” (Critique of Pure Reason). Kant memperkenalkan perbedaan atas putusan negatif dan putusan tidak terbatas. Pernyataan positif, “Jiwa adalah fana” (The soul is mortal), dapat dinegasikan dengan 2 cara. Kita dapat menegasi predikatnya (The soul is not mortal) atau mengafirmasi sebuah non-predikat (The soul is non-mortal). Putusan tidak terbatas membuka sebuah wilayah ketiga yang meruntuhkan distingsi antara dead dan non-dead (alive): yang ‘undead’ adalah bukan hidup maupun mati, tetapi adalah ‘mayat hidup’ (living dead). Demikian juga dengan kata ‘tidak manusiawi’ (inhuman); “He is not human”, tidak sama artinya dengan “He is inhuman”. “He is not human” artinya: Dia berada di luar kemanusiaan, hewan, atau yang ilahi; sedangkan “He is inhuman”, menyatakan sesuatu yang sama sekali berbeda, yakni: fakta bahwa dia bukan manusia, juga bukan tidak manusaiwi, tetapi ditandai dengan sebuah pristiwa menakutkan yang melekat pada manusia walaupun ia menegasi apa yang kita mengerti tentang kemanusiaan.
            Dalam kronologi Pra-Kantian, manusia semata-mata adalah manusia yang memiliki akal budi, berjuang melawan nafsu hewani dan kegilaan yang ilahi, sedangkan dalam filsafat Kant, manusia adalah pristiwa yang harus diperjuangkan bersifat imanen (keadaan sadar sepenuhnya) serta menyangkut inti subjektifitas itu sendiri. Inilah alasan mengapa dalam Idealisme Jerman, metafora untuk subjektifitas adalah ‘Night’ (Night of the World) berbeda dari gagasan pencerahan tentang ‘Cahaya Aka-budi’ (Light of Reason) yang berjuang melawan kegelapan di sekitarnya. Dalam kosmologi Pra-Kantian, ketika sang tokoh menjadi gila, ia kehilangan kemanusiaannya dan diambil aih oleh nafsu hewani serta kegilaan ilahi. Bagi Kant, kegilaan menandakan bahwa letupan kebebasan merupakan inti manusia.
            Lantas bagaimana kita dapat menghindarkan akibat traumatis karena terlalu terekspos pada the Other yang mengerikan? Bagaimana kita harus mengatasi perjuampaan kita dengan hasrat the Other? Bagi Lacan, ‘fantasi’ adalah jawabannya. Pertama, fantasi benar-benar mengajarkan kita acara untuk berhasrat. Artinya, fantasi tidak berarti bahwa ketika saya menhinginkan sepotong kue strawberry dan tidak mendapatkannya dalam realitas, maka saya berfantasi seolah-olah saya memakan kue strawberry. Masalahnya adalah bagaimana saya tahu bahwa saya menginginkan kue strawberry? Ini adalah apa yang dikatakan fantasi kepada saya. Peran fantasi ini bergantung pada jalan buntu (deadlock) dalam seksualitas kita, yang ditunjukan oleh Lacan dalam pernyataan paradoksnya, “Tidak ada hubungan seksual” – artinya tidak ada jaminan universal dalam sebuah hubungan seksual yang harmonis dengan pasangannya. Setiap subjek harus menciptakan fantasinya masing-masing, sebuah formula ‘pribadi’ (private) untuk hubungan seksual – hubungan dengan seorang wanita adalah mungkin hanya karena sang partner setia pada formula ini. (Pertanyaan, apakah ini bisa disangkut pautkan dengan LGBTQ?)
            Hal yang ditambahkan di sini adalah bahwa hasrat yang ditampilakn dalam fantasi bukanlah hasrat subjek sendiri, tetapi hasratnya the Other, yakni: hasrat orang-orang di sekitarku dengan siapa aku berinteraksi.
Jadi, fantasi, skenario fantasmatis merupakan jawaban pada pertanyaan: “Anda mengatakan hal ini, tetapi apa yang sebenarnya anda inginkan dengan mengatakannya?” pertanyaan aslinya bukan secara langsung, “Apa yang saya inginkan?”, “Apa yang mereka lihat dalam diri saya?”, “Saya ini apa di mata mereka?” fantasi menyediakan jawaban bagi teka -teki ini. Secara paling mendasar, fantasi memberitahukan saya bahwa saya ini apa bagi orang lain. Karakter intersubjektif ini dapat dilihat bahkan dalam kasus yang paling mendasar seperti apa yang dilakukan oleh Freud tentang anaknya yang berfantasi untuk makan kue strawberry. Masalah sebenarnya dalam fantasi makan kue strawberry adalah masalah anak dengan identitas yang akan menyenangkan orang tuanya dan membuat dirinya menjadi objek hasrat dari orang tuanya.
            Karena seksualitas adalah domain di mana kita menjadi intim dengan orang lain, maka bagi Lacan kegiatan seksual adalah nyata: artinya sesuatu yang traumatis atas intensitasnya yang mendebarkan, namun tidak mungkin, dalam arti bahwa jita tidak pernah dapat mengerti tentangnya. Inilah sebab mengaa hubungan seksual, agar dapat berfungsi, harus disaring melalui fantasi.
            Jadi, apa itu fantasi secara paling mendasar? Paradoks ontologis, bahkan skandal fantasi terletak pada fakta bahwa fantasi meruntuhkan perlawanan standar antara ‘subjektif’ dan ‘objektif’: tentu, secara definisi, fantasi tidak bersifat objektif, artinya: merujuk pada sesuatu yang termasuk dalam intuisi subjek yang dialami secara sadar sebagai hasil imajinasinya. Fantasi lebih termasuk dalam ‘Kategori aneh dari subjektif yang objektif’ – cara mengadanya benda-benda yang secara objektif tampak seperti itu, walaupun mereka tidak tampak begitu. (Daniel C. Dennet, Consciousness Explained, New York: Little Brown & Company, 1991, hal. 132)
            Pada Maret 2003, Donald Rumsfeld teribat dalam sebuah hubungan antara yang diketahui (the known) dan yang tidak diketahui (the unknown). Ada hal-hal yang kita tahu bahwa kita tahu (known knowns); ada hal-hal yang kita tahu bahwa kita tidak tahu (known unknowns); serta ada lagi hal-hal yang kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu (unknown unknowns). Namun kita lupa menambahkan yang keempat, yakni: ‘hal-hal yang kita tidak tahu bahwa kita tahu’ (unknown knowns), yang persisinya adalah ‘unconcious’-nya Freud, ‘pengetahuan yang tidak mengetahui dirinya sendiri’; dan ini adalah inti dari fantasi (Lacan). (S. Zizek, How to Read Lacan, hal 52)
            Ini juga salah satu cara untuk menjelaskan makna pernyataan Lacan bahwa subjek selalu di ‘pinggirkan’ (decentred). Maksud Lacan adalah bukan karena subjektif saya diatur oleh mekanisme tak sadar objektif, yang dipinggirkan sehubungan dengan pengalaman diri saya sedemikian rupa, di luar kendali saya, tetapi sesuatu yang lebih – (cara benda-benda ‘tampak bagi saya’) – membuang fantasi mendasar yang membentuk serta menjamin inti keberadaan saya, karena saya tidak dapat mengalami serta menerimanya secara sadar.
            Menurut pandangan standar, dimensi subjektifitas adalah dimensi fenomenal pengalaman sendiri: Saya adalah seorang subjek pada saat saya dapat mengatakan pada diriku, “Tidak peduli mekanisme tak diketahui apapun yang mengatur tindakan, persepsi dan pikiranku, tidak seorangpun dapat mengambil dariku apa yang sedang kulihat dan kurasakan sekarang”. Sebagai contoh, jika saya sedang jatuh cinta, kemudian seorang ahli biokimia mengatakan pada saya bahwa perasaan intens itu hanya merupakan hasil dari “Apa yang dia katakan itu mungkin benar, tetapi tidak ada yang dapat mengambilnya dariku (intensitas birahi yang sedang kualami sekarang)”. Lacan ingin mengatakan bahwa seorang psikoanalisis ‘dapat’ mengambilnya dari seorang subjek: Tujuan akhir sang analis adalah melepaskan subjek dari fantasi mendasar yang mengatur dunia pengalaman dirinya.
            Menurut Freud, subjek yang tidak sadar muncul hanya ketika satu aspek kunci dari pengalaman subjek (fantasi mendasarnya) tidak terakses baginya, secara primodrdial (saya tidak paham primodrdial) terrpresi. Secara radikal, bagian tidak sadar adalah fenomena yang tidak terakses, bukan mekanisme objektif yang mengatur fenomenal saya. Jadi, ciri subjektifitas manusia yang benar adalah jurang (gap) yang memisahakn keduanya, yakni: Fakta bahwa fantasi, secara paling mendasar, menjadi tak terakses oleh subjek. Ketidakteraksesan inilah yang membuat subjek menjadi ‘kosong’ (empty).
            Dengan keterangan di atas, kita mendapatkan sebuah hubungan yang sama sekali meruntuhkan gagasan standar tentang subjek yang mengalami dirinya secara langsung melalui kondisi psikisnya: ada sebuah hubungan aneh antara subjek non-fenomenal yang kosong dan fenomena yang tetap tidak terakses bagi subjek. Dengan kata lain, psikoanalisis memperbolehkan kita untuk merumuskan sebuah fenomenologi paradoks tanpa subjek – fenomena muncul bukan sebagai fenomena ‘dari’ (of) seorang subjek, tetapi muncul lagi ‘bagi’ (to) seorang subjek. Ini tidak berarti bahwa subjek tidak terlibat di sini – tetapi justru persis dalam modus ‘penyingkiran’ (exclusion), terbagi sebagai agen yang tidak mampu menerima inti dari pengalaman psikisnya.
            Status fantasi yang paradoks ini membawa kita pada titik akhir dari perbedaan yang tidak terjembatani antara psikoanalisis dan feminisme, yakni tentang ‘pemerkosaan’ (dan fantasi masokistis yang mendukungnya). Bagi feminisme standar, sudah menjadi aksioma bahwa “Perkosaan adalah sebuah kekerasan yang dipaksakan dari luar”. Jika seorang wanita berfantasi untuk diperkosa secara brutal, ini mungkin adalah fantasi seorang lelaki tentang seorang wanita atau seorang wanita yang melakukannya sejauh ia telah menginternalisasikan ekonomi libidonal patriarkal dan menyatujui pengorbanan dirinya -  gagasan yang mendasarinya adalah pada saat kita mengakui fakta mimpi tentang perkosaan ini, kita membuka pintu pada kata-kata basi seorang chauvinis lelaki, tentang bagaimana setelah diperkosa, wanita mendapatkan apa yang diinginkan secara diam-diam dan bagaimana shock dan ketakutan hanya mengungkapkan fakta bahwa mereka tidak cukup jujur untuk mengakui hasrat mereka. Akibatnya, pada saat seseorang menyebutkan bahwa seorang wanita berfantasi untuk diperkosa, orang akan mendengar hal itu ditolak dan bahwa “Ini adalah seperti kita mendengar bahwa orang Yahudi berfantasi akan dimasukan ke dalam kamar gas!”. Dari perspektif ini, posisi histeris terbelah seorang wanita (yang mengeluh karena diperlakukan tidak senonoh dan dieksploitasi, namun sekaligus serta mengingatkan serta memacing lelaki untuk memperkosanya) adalah bersifat sekunder, sedangkan bagi Freud, ‘pembedahan’ ini adalah primer yang membentuk subektifitas.
            Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa sebagian wanita mungkin benar-benar mimpi untuk diperkosa, namun fakta ini bukan saja tidak melegitimasikan perkosaan yang aktual, tetapi membuatnya menjadi lebih keras. Mari kita ambil contoh dua wanita: yang pertama adalah wanita yang merdeka, tegas, aktif; sedangkan yang kedua secara diam-diam mimpi untuk diperkosa oleh partnernya. Jika keduanya diperkosa, maka traumanya akan lebih berat bagi wanita yang kedua.
            Ada jurang yang memisahkan inti fantamatis adanya subjek dan modus lebih dangkal dari imajinasi simbolis (imajinernya). Memang saya tidak pernah mungkin untuk menerima sepenuhnya (dalam arti integrasi simbolis) inti fantasmatis keberadaanku: Jika saya berusaha untuk terlalu dekat, yang terjadi adalah sebuah ‘penghapusan’ atau ‘kehilangan diri subjek’ (aphanisis): Artinya subjek kehlangan konsistensi simbolisnya, subjek hancur. Dan mungkin aktualisasi yang dipaksakan dalam realitas sosial sendiri adalah yang terburuk, kekerasan yang paling merendahkan, sebuah kekerasan yang meruntuhkan basis identitas saya (imaji diri saya). (S. Zizek, How to Read Lacan, hal. 55)
            Menurut pandangan Freud, masalah perkosaan memiliki sebuah efek traumatis yang bukan semata-mata kerena itu merupakan suatu kekerasan eksternal yang brutal, tetapi juga karena perkosaan menyentuh sesuatu yang ditolak oleh korban itu sendiri. Freud juga menulis: “Jika apa yang sangat diingkinkan subjek dalam fantasinya dihadirkan secara realitas, maka mereka akan melarikan diri darinya.” (S. Freud, Dora: An Anaylsis of a Case of Hysteria, New York: Mcmillan, 1963, hal. 101). Kasus ini menunjukan bahwa ini terjadi bukan semata-mata karena masalah sensor, tapi karena maslah inti fantasi kita tidak tertahankan.
            Kemudian muncul masalah: Jika apa yang kita alami sebagai ‘realitas’ itu terstruktur oleh fantasi dan jika fantasi melayani sebagai layar yang melindungi kita dari kelimpahan langsung oleh the Real, maka “Realitas itu sendiri dapat berfungsi sebagai sebuah pelarian dari perjumpaan dengan the Real”. Dalam oposisi antara mimpi dan realitas, fantasi berada di pihak realitas dan di dalam mimpilah kita berjumpa dengan the Real yang traumatis. Alasannya bukanlah karena mimpi adalah bagi orang yang tidak dapat memikul realitas, tetapi realitas sendiri adalah untuk orang yang tidak dapat memikul (the Real) pada diri mereka.
            Apa yang kita hadapi di sini adalah ambiguitas mendasar dari ide tentang fantasi. Walaupun fantasi adalah layar yang melindungi kita dari perjumpaan dengan the Real, namun fantasi sendiri secara paling mendasar – apa yang disebut Freud sebagai ‘fantasi fundamental’, yang menyediakan koordinat paling mendasar dari kemampuan subjek untuk berhasrat – tidak pernah dapat disubjektifikasikan dan harus tetap terrepresi agar dapat berfungsi. Dalam film Stanley Kubrick, Eyes Wide Shut, mengingatkan kita pada kesimpulan yang tampaknya fulgar. Setelah Tom Cruise mengaku pada Nicole Kidman tentang petualangan malamnya dan mereka berhadapan dengan fantasi mereka yang berebihan, kemudian Kidman setelah memastikan bahwa mereka sudah sadar sepenuhnya, kembali ke seharian biasa, jika tidak untuk selamanya, paling tidak untuk waktu yang lama, mereka akan tinggal di sana, bertahan dan melawan fantasi tersebut – mengatakannya pada Tom Cruise bahwa mereka harus melakukannya sesegera mungkin. ‘Apa?” Tom Cuise bertanya dan jawaban Kidman adalah “Fuck”. Dan filmpun berakhir. (S. Zizek, How to Read Lacan, hal 59). Bagi Lacan tanggung jawab etis terakhir adalah sebuah penyadaran sejati: artinya bukan hanya sadar dari tidur atau mimpi, tetapi juga sadar dari pesona fantasi yang mengendalikan kita bahkan ketika kita dalam keadaan sadar.

Kesimpulan
            Formula umum yang dapat dirumuskan adalah: Jika tidak ada hal seperti hubungan seksual yang mengajukan sebuah cacat dalam hubungan manusia, maka gejala itu ada atau bisa dikatakan muncul sebuah formasi pengganti yang berasal dari bagian tidak sadar. Gejala yang mencapai suatu penyatuan antara unsur-unsur berlainan bagian tidak sadar dan kenikmatan (jouissance), memberikan sebuah penggantian. Secara terberi, partner jouissance memiliki ‘kekurangan’ (lack), maka gajala menggantikannya dengan sesuatu yang lain, yakni: sebuah penggati, subtitusi (a substitute). Gejala ini melawan ketidakmungkinan hubungan seksual dalam frase: “There is no such a thing…” dengan membangun sebuah frase: “There is ….” Ada suatu unsur yang ditangkap dari bagian tidak sadar yang mengatur jouissance istimewa dalam subjek.
            Jadi, gejala bukan lagi sebuah masalah tetapi solusi dan tanpa paradoks apapun. Solusi adalah benar untuk setiap orang, respon terhadap ‘no relation’ yang dipaksakan terhadap semua, penyakit universal manusia yang terpengaruh oleh bagian tidak sadar. Solusi simtomatis ini dapat lebih kurang menjadi tidak menyenangkan bagi subjek, lebih kurang sama, tetapi bagaimanapun juga, solusi ini merespon ‘kekurangan’ (the lack) yang berada di dalam intinya Bahasa, the lack yang terkait dengan ketidakmungkinan untuk menorehkan jouissance lain yang tidak terkait dengan bagian tidak sadar.

            Spektrum konsekuensi adalah luas, tetapi yang utama adalah: bahwa tidak ada subjek tanpa gejala, karena gejala mengisyaratkan sebuah cara individual untuk menghadapi seksualitas. Dan melalui gejala inilah semua orang memiliki akses pada jessouisnace-nya dan menyuplai kekurangan pada Bahasa melalui pemalsuan bagian tidak sadar. Kita dapat menggunakan gejala tunggal, walaupun tentu ada banyak gejala lainnnya, dan bahkan kita dapat mengubahnya sebagai sebuah gejala mendasar. Orang seharusnya tidak bermimpi untuk menghilangkannya: sebuah analisis yang dimulai dengan gejala, juga akan berakhir dengan gejala – dengan harapan dapat mentransformasikannya.

Popular Posts